Informasi

ISLAM DAN DAKWAH OLEH: UST. HUSAIN S.H.I DOSEN MA’HAD HASAN BIN ALI SAMARINDA.

Dakwah secara harfiyah artinya ajakan atau seruan, yaitu ajakan ke jalan Allah. Asal kata dakwah adalah da’a-yad’u-dakwah yang artinya menyeru atau mengajak. Secara istilah, dakwah bermakna ajakan untuk memahami, mempercayai (mengimani) dan mengamalkan ajaran islam, juga mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Di antara hal yang wajib untuk diemban oleh setiap muslim adalah dakwah, yaitu mengajak sesama manusia menuju jalan yang benar. “Ballighuu ‘anni walau aayah”; sampaikan dariku meskipun satu ayat. Berdakwah tidak disyaratkan harus orang yang sudah mumpuni segalanya, karena pada hakikatnya semua orang memiliki kekurangan dan kelemahan. Berdakwah harus memiliki metode tertentu, dan sebaik-baik metode dakwah yang patut dicontoh adalah metode dakwah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. yaitu bersifat bijaksana dan tidak mempersulit. Buah dari dakwah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dapat dilihat dari tersebarnya Islam di jazirah Arab. Dalam kurun masa kurang dari 23 tahun, Islam mampuberkembang secara pesat di tengah kondisi jahiliyah masyarakat arab yang cukup parah. Rahasia besar kesuksesan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. dalam berdakwah adalah menyampaikan dakwah melalui amal perbuatan. Metode dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. mengacu pada anjuran Allah yang tercantum dalam Alquran surat An- Nahl ayat 125. Ayat ini mencakup beberapa metode dakwah sebagai berikut:

1. Disampaikan dengan cara yang hikmah

Kata hikmah berarti yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan. Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan/diperhatikan akan mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar serta menghalangi terjadinya kesulitan yang besar atau lebih besar. Dakwah harus disampaikan dengan cara hikmah, agar tidak menimbulkan permasalahan umat. Dalam hal ini, Majlis Taklim adalah tempat untuk menyatukan umat, bukan untuk memperbesar perbedaan dan memecahbelah umat. Rasul telah mengajarkan sikap lemah-lembut yang beliau tunjukkan tak hanya kepada para sahabat dan orang- orang muslim, tetapi juga kepada musuh yang akan membunuh beliau. Inilah ketinggian akhlak berdakwah Rasulullah yang mengacu pada anjuran hikmah dalam Alquran. Metode ini juga digunakan oleh para Wali Songo yang menyebarkan Islam di Indonesia.

2. Mau’idzah Hasanah, yakni memberikan nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan pengetahuan para pendengarnya. Banyak ulama yang mengartikan mau’idzah dengan uraian yang menyentuh hati yang mengantar kepada kebaikan. Kata mau’idzah disifati dengan hasanah, karena ia baru dapat mengena hati sasaran bila ucapan yang disampaikan itu disertai dengan pengamalan dan keteladanan dari yang menyampaikannya.

3. Mendebat dengan cara yang terbaik

Metode dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam . Senantiasa menghindari cara berdebat yang hanya akan melemahkan seorang da’i. Jika terpaksa harus berdebat, Rasulullah akan mendebat dengan cara yang sangat baik dan bijak. Hal ini beliau contohkan ketika suatu saat beliau ditemui oleh seorang utusan kaum kafir Quraisy. Utusan tersebut merayu dan membujuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mening-galkan dakwah Islam. Sebagai gantinya kaum kafir Quraisy akan memberi-kan apa saja yang dikehendaki Rasul seperti harta, tawanan, dan jabatan. Dalam kondisi perdebatan yang sangat penting tersebut (menyangkut akidah), Rasulullah mencontohkan sikap yang tenang dan cerdas. Beliau memper-silahkan utusan tersebut selesai bicara, kemudian beliau menanyakan kepada utusan tersebut, “Sudah selesai Anda berbicara?”. Inilah bentuk keteladanan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. yang diajarkan pada ummat manusia dalam menyebarkan dan menyampaikan ajaran dakwah. Bahkan dalam kondisi perdebatan yang sudah mencapai klimaks, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tetap mengajarkan kepada manusia cara berdebat dan berargumen yang baik dan bijak. Jidal (debat) terdiri dari beberapa macam, yang buruk adalah yang disampaikan dengan kasar, yang mengundang kemarahan lawan, serta yang menggu-nakan dalih-dalih yang tidak benar. Yang baik adalah yang disampaikan dengan sopan serta menggunakan dalil-dalil atau dalih walau hanya diakui oleh lawan, tetapi yang terbaik adalah yang disampaikan dengan baik, dengan argumen yang benar. Metode dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lainnya yakni membalas sikap jahat yang dilakukan objek dakwah dengan akhlak mulia yang mengetuk hati objek dakwah, untuk selanjutnya mengantarkannya kepada keimanan. Sebagai kesimpulan, ada tiga metode dakwah yang harus sesuai dengan sasaran dakwah. Terhadap cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah, yakni berdialog dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Terhadap kaum awam diperintahkan untuk menerapkan mau’idzah, yakni memberikan nasihat dan per-umpamaanyang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedang, terhadap ahl al-kitab dan penganut agama-agama lain yang diperintahkan adalah jidal/perdebatan dengan cara yang terbaik, yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan, umpatan dan hinaan.

Akhirnya, semoga kita bisa menjadi da’I yang meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, demi kemaslahatan diri kita sendiri, keluarga, dan masyarakat serta dunia. Wallaahu a’lam bi ash-shawaab……